Wednesday, May 15, 2019

Aliran Rasa - Melatih Kemandirian

12:00 PM 0 Comments

15 hari menjalankan tantangan level 2 "Melatih Kemandirian" dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan keluarga. Iya, bukan hanya bagi Athifa yang memang menjadi tokoh utama dalam periode tantangan kali ini, namun juga bagi seluruh keluarga. Karena hasil dari latihan kemandirian pad Athifa ini ternyata berpengaruh pada kedua abangnya, dan tentunya saya dan suami pun mendapat bonus tambahan, yaitu rasa syukur yang berlipat-lipat rasanya melihat anak-anak kami yang semakin mandiri.

Jika berbicara tentang sempurna, tentu masih banyak hal yang perlu terus dilatih lagi. Namun bukan hanya hasil yang menjadi target utama dari latihan ini, melainkan proses yang bisa kami jalankan bersama. Kami berproses, memperbaiki diri, dan mengejar cita-cita mulia bersama. Selama berproses ini, bonding antar anggota keluarga pun meningkat. Karena kami di sini bekerja sebagai team yang selalu saling support dan saling mengingatkan jika salah satu dari kami mengalami regresi atau kemunduran dalam suatu pencapaian.

Pada dasarnya, anak-anak kami memang sudah terbiasa mandiri sejak mereka masih balita. Mandiri yang sesuai dengan tingkatan umur mereka tentunya. Mungkin salah satunya karena usia mereka yang berdekatan. Kembar yang jelas usianya sama, sedangkan adiknya hanya selisih usia 21 bulan saja. Jadi mereka terbiasa melakukan hampir semua aktivitas di rumah bersama-sama. Mereka sudah terbiasa saling bantu dan saling jaga. Kami memang selalu menekankan pada mereka bahwa kita adalah keluarga. Sebuah keluarga seharusnya saling menyayangi, membantu, mendukung, menjaga, dan hal positif lainnya.

Kami pun merasa belum menjadi orang tua yang sempurna. Kami masih terus belajar. Mencari berbagai referensi dan bahkan sempat mengikuti pelatihan parenting sampai ke negara tetangga demi bisa belajar jadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami. Kadang kami pun coba-coba dari teori satu ke teori lain dan mempraktekkannya pada anak-anak kami. Tapi dari perjalanan itu, akhirnya kami kembali lagi pada value yang ingin kami tanamkan pada keluarga kami. Dan dari teori-teori parenting yang pernah kami coba itu, kami ambil hal-hal yang memang sesuai dengan value keluarga.

Tega, tegas, dan konsisten. Ketiga hal tersebut bisa dibilang paling menggambarkan proses yang kami jalankan. Sebuah proses pembentukan habit memang tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali, atau pun sesekali. Jika ya, maka sebisa mungkin seterusnya ya. Sebaliknya jika tidak, maka sebisa mungkin seterusnya tidak. Kalaupun ada situasi dan kondisi yang mengharuskan kita menggantinya, tentu itu harus bisa kita komunikasikan dengan baik pada seluruh anggota keluarga.

Yup, lagi-lagi komunikasi. Memang kunci utama hubungan yang baik adalah komunikasi. Bahkan sebagai seorang hamba pun, kita diperintahkan untuk terus menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta, yaitu dengan cara beribadah dan berdo'a pada-Nya. Dan dalam keluarga, komunikasi ini menjadi hal yang mutlak harus selalu kita jaga. Segala permasalahan bisa timbul karena kurangnya komunikasi, pun sebaliknya ketika ada masalah, bisa kita selesaikan dengan komunikasi. 

Berdiskusi memang sudah menjadi bagian dari rutinitas harian kami. Setiap kami membuat rules dan rencana kegiatan keluarga, kami jelaskan alasan dan tujuannya. Sehingga anak-anak tidak merasa terpaksa menjalankan, namun mereka justru bersemangat karena faham alasan dan tujuannya.

Kadang saat kesabaran mulai diuji, kami bisa sedikit keras menghadapi anak-anak. Tapi setelah itu, kami tidak segan untuk meminta maaf pada mereka. Menjelaskan mengapa kami berbuat seperti itu. Sehingga anak bisa menyadari kesalahannya tanpa merasa terpuruk dan terpojokkan.

Dari latihan kemandirian selama 2 pekan denga Athifa. Kami mendapat hasil yang di luar ekspektasi. Mungkin awalnya saya berpikir untuk tidak terlalu muluk-muluk menargetkan Athifa bisa mencapai level kemandirian tertentu. Tapi ternyata kebiasaan yang dilatih secara konsisten kini menunjukkan hasil yang luar biasa.

Contohnya dalam hal mengurus diri sendiri dan membantu pekerjaan rumah. Awalnya saya hanya menargetkan dia bisa minimal membersihkan diri (mandi dan cebok), merapikan tempat tidur, dan menyiapkan baju dan perlengkapan sekolah sendiri, serta membantu saya mengerjakan beberapa hal ringan di rumah, tapi masih harus saya ingatkan. Ternyata dia sekarang tidak hanya bisa mengerjakan semuanya sendiri tanpa perlu diingatkan lagi, namun juga berinisiatif membantu saya di beberapa pekerjaan rumah, termasuk jika melihat saya kerepotan akan sesuatu. Dan bonusnya, kedua abangnya jadi termotivasi melakukannya juga. Alhamdulillah... 

Bersyukur sekali mendapat kesempatan belajar dan berlatih di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional ini. Saya mendapat ilmu yang sangat banyak dari materi yang diberikan, juga dari pengalaman teman-teman di kelas. Banyak hal yang menginspirasi saya dari tulisan teman-teman. Bekal saya untuk meneruskan proses mencapai cita-cita mulia, yaitu menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak saya. Aamiin...


#aliranrasa   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Saturday, May 11, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 15 - Semakin Mandiri dan Percaya Diri

6:42 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak


Tidak terasa tantangan level 2 ini sudah sampai di hari terakhir. Masya Allah.. Rasanya masih terharu melihat banyak perkembangan kemandirian anak-anak, khususnya Athifa, selama 2 pekan ini.

Saya akan bercerita tentang pengalaman selama dua hari ini. Kemarin kami mengikuti acara Kinder Iftar (acara buka puasa untuk anak-anak) yang diadakan oleh Islamisches Kultur Zentrum (IKZ) Graz, yaitu pusat kebudayaan Islam sekaligus masjid terbesar di kota Graz.



Alhamdulillah anak-anak mendapat pengalaman sangat berharga. Mereka bisa melihat ternyata banyak anak-anak muslim di kota ini. Mereka tidak lagi merasa sendiri. Dan khususnya di bulan Ramadhan ini, mereka benar-benar bisa merasakan kemeriahannya.

Anak-anak kembali berpuasa sampai Maghrib setelah hari sebelumnya mereka bolong puasanya. Bukan hanya itu, mereka pun makin semangat shalat berjama'ah dan mengaji. Dan bonusnya, selepas shalat dan mengaji, mereka membereskan semuanya sendiri. Athifa bahkan sudah bisa melipat mukena dan sajadah dengan rapi.

Tentang kemandirian, saya melihat semakin banyak peningkatan. Bukan hanya pada Athifa yang memang saya fokuskan di tantangan level ini, namun juga pada Ghaidan dan Ghaifan. Sepertinya si kembar ini pun jadi terinspirasi oleh adiknya. Hehehe...

Saat acara Kinder Iftar di IKZ kemarin Athifa cukup berani dan percaya diri. Dia ikut ke barisan anak-anak peserta program anak dari IKZ yang semuanya merupakan keturunan Bosnia. Meskipun dia tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan, tapi dia tetap ingin berpartisipasi.



Karena temanya acaranya spesial untuk anak-anak jadi menunya pun menu anak

Begitu pun hari ini, di acara pengajian plus buka bersama warga Indonesia di Graz, Athifa paling semangat membantu. Dia dengan sukarela menawarkan diri membantu saya dan beberapa ibu di dapur yang sedang membuat onde-onde. 

Semoga tantangan selama 2 pekan ini menjadi motivasi bagi kami mendidik anak-anak menjadi pribadi yang lebih mandiri lagi. Sehingga kelak, tidak hanya berpikir tentang apa yang bisa mereka dapatkan, namun juga apa yang bisa mereka berikan untuk ummat. Aamiin...



#hari15   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Friday, May 10, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 14 - Mengganti Kebaikan dengan Kebaikan

6:28 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak


"Bunda, we haven't wrapped the gift yet!"

Kehebohan di pagi hari diawali oleh Ghaifan yang panik karena belum membungkus kado untuk temannya yang berulang tahun kemarin. Sebuah mainan yang sudah kami beli 2 hari sebelumnya, terlupakan belum sempat saya sentuh lagi.

Akhirnya sambil berusaha tidak panik, dibungkuslah kado itu. Tidak lupa saya menyiapkan paper bag untuk mengantongi kado tersebut. Rencananya Ghaidan dan Ghaifan akan ikut langsung ke rumah temannya yang berulang tahun ini setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Saya hanya diminta menjemput mereka di sore hari jam 18.00 di rumah anak tersebut.

Selagi membungkus kado, saya meminta anak-anak bersiap-siap. Semua sudah bisa menyiapkan kebutuhannya di pagi hari. Baju dan perlengkapan sekolah sudah bisa mereka siapkan sendiri. Termasuh bekal makan yang sudah saya letakkan di meja makan, mereka susun ke dalam kotak bekal dan masukkan ke tas masing-masing.

Saat di perjalanan menuju ke sekolah, masih ada sedikit rengekan dari Athifa yang tidak bisa ikut ke acara ulang tahun teman abangnya itu. Tapi saya berusaha mengingatkan lagi bahwa dia harus mulai belajar lepas dari bayang-bayang kedua abangnya. Biarkan mereka bermain bersama teman-teman sekelasnya saja kali ini.

Athifa berusaha menghibur diri dengan menceritakan pada saya bahwa hari itu dia akan bermain bersama teman-temannya di Nachmittagsbetreuung. Dia cerita panjang lebar dengan detil apa saja permainan yang akan dimainkannya.

Sampai di sekolah saya mengantar anak-anak sampai Garderobe karena saya membantu mereka membawakan kado yang ukurannya cukup besar. Kado itu saya gantungkan di tempat Ghaidan menggantung jaketnya. Setelah itu baru saya melepas anak-anak naik ke atas menuju kelas mereka.

Sepertinya sih, sudah tidak ada masalah lagi. Saya lihat Athifa sudah kembali ceria saat bertemu teman-temannya di sekolah tadi. Saya pun merasa lebih tenang.

Karena saya harus menjemput Ghaidan dan Ghaifan jam 18.00 maka saya sengaja menjemput Athifa di sekolah lebih sore. Jam 17.00 saya tiba di sekolah. Ternyata dia adalah yang terakhir dijemput.

Saat melihat saya, Athifa langsung berlari menghampiri dan memeluk saya. Wajahnya antara senang karena puas bermain tapi juga sedih karena (mungkin) merasa ada yang hilang 😄

Tanpa perlu negosiasi, Athifa langsung mau diajak pulang. Saya bilang padanya kalau kami harus menjemput abang kembar ke rumah temannya yang berulang tahun. Dan akhirnya saat di perjalanan, dia buka mulut mengungkapkan kegelisahannya 😁

"Bunda, aku masih puasa," katanya.

"Wah, hebat!" seru saya antusias.

"But... Abang gak puasa...."

Aha! Ternyata itu yang dipikirkannya dari tadi. Ada sedikit kecemburuan karena kedua abangnya hari itu diizinkan oleh saya dan suami untuk tidak berpuasa karena menghadiri acara ulang tahun temannya.

"Did abang eat cake at the party?" tanya Athifa lagi.

"Gak tau. Mungkin iya," jawab saya lempeng 😁

"I also want to eat cake. Do you think i'm gonna get some cake? Because i also got some cake for abang last time at Hannah birth day when abang couldn't come."

Ooh... Rupanya dia masih ingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu ketiganya diundang oleh salah seorang teman si kembar ke acara ulang tahunnya. Tapi sayangnya saat itu si kembar ada kursus ski jadi hanya Athifa yang bisa datang. Waktu itu memang ibu dari teman yang berulang tahun itu memberikan cake untuk si kembar. Jadi Athifa berharap dia pun akan bernasib sama. Hihihi...

"Bunda gak tau nanti ada cake atau nggak. Athifa mau makan cake, ya? Gimana kalau kita beli aja sekarang?" bujuk saya.

"Mmh... Maybe i don't want any cake. Can i change into donut?" rayunya.

"Ok. Sekalian buat buka puasa nanti ya donutnya?"

"Yeaayyy!!" Athifa tampak kegirangan.

Akhirnya kami mampir ke toko donut. Athifa memilihkan untuk abangnya juga. Masing-masing saya beri jatah 2 donut. Setelah itu kami menuju halte tram untuk menjemput abang kembar. Athifa terlihat lelah. Mungkin tadi di sekolah memang dia bermain dengan sepenuh hati, supaya tidak ingat abangnya terus.

Saat menunggu tram di halte, sudah ngantuk 😃

Saat di tram, Athifa bilang capek. Dia minta izin untuk tidur. Saya pun mengizinkan. Tapi saya ingatkan dulu, kalau nanti sudah sampai, akan saya bangunkan. Jadi harus siap kalau nanti tidurnya terpotong karena perjalanan memang tidak terlalu jauh. Dan dia pun setuju.

Ketiduran di tram 😊

Sampai di tempat tujuan, saya bangunkan Athifa. Alhamdulillah dia tidak rewel. Ingat dengan kesepakatan tadi sebelum tidur. Lalu kami pun berjalan menuju rumah teman abang kembar.

Sampai di sana, kami disambut oleh ibu dari teman abang. Kami dipersilakan masuk. Dan saat itu kebetulan anak-anak di sana sedang makan. Oow... 

Si ibu menawarkan makanan pada Athifa. Seketika Athifa melirik saya dengan wajah memelas dan bingung. Saya pun tersenyum sambil mengangguk tanda mengiyakan. Ok, situasi yang sangat sulit baginya. Saya izinkan dia membatalkan puasanya hari ini.

Akhirnya kebagian cake 😅

Selesai makan, kami pun berpamitan. Waktu sudah semakin sore. Saya belum sempat shalat Ashar. Saya pun mengajak anak-anak untuk jalan cepat-cepat.

Sampai di rumah, masih ada waktu sekitar 1 jam lebih menuju Maghrib. Saya pun mengajak anak-anak shalat Ashar.

Setelah shalat, kami berdiskusi sedikit. Mengapa tadi mereka saya izinkan untuk membatalkan puasanya. Saya jelaskan bahwa situasinya tadi cukup kurang mendukung untuk mereka berpuasa. Kalau mereka menolak makan dan minum di acara ulang tahun tadi, tentu tuan rumah dan terutama teman yang berulang tahun tadi akan merasa sangat sedih. Dan yang utamanya adalah karena mereka masih belajar. Kelak saat mereka sudah dewasa, tentu harus bisa manghindari situasi sulit seperti itu.

Lalu mereka bertanya, apakah mereka masih bisa mendapat point (pahala) jika mereka tidak puasa. Saya jelaskan bahwa mereka bisa melakukan ibadah yang lain dengan lebih baik. Dan menambah perbuatan baik lainnya. Jadi kita seperti mengganti kebaikan dengan kebaikan yang lain. Tapi ibadah yang wajib tetap harus dilakukan. Tidak bisa diganti dengan kebaikan yang lain.

Mendengar penjelasan saya, mereka langsung mengambil buku Iqra dan berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama membacanya. Dengan semangat, mereka membaca lebih banyak dari hari biasanya. Bahkan setelah itu mereka berlomba-lomba untuk membantu saya menyiapkan hidangan berbuka. Alhamdulillah... Semoga semangat beribadah dan berbuat baik ini akan terus meningkat hingga dewasa nanti, ya. Aamiin...



#hari14   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Thursday, May 9, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 13 - Terlambat itu Sambung-menyambung

3:46 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak


Sejak hari pertama Ramadhan, semangat anak-anak untuk belajar beribadah semakin meningkat. Alhamdulillah... Masih konsisten belajar puasanya meskipun diselingi sedikit drama. Hehehe... Tidak hanya puasa, mereka pun semangat belajar shalat dan mengaji.

Rutinitas pagi Alhamdulillah tidak ada kendala. Walaupun si kembar sempat ribut karena Athifa terlambat bangun, yang artinya mereka bisa terancam terlambat berangkat sekolah 😁

Karena sejak mereka belajar puasa sampai Maghrib, otomatis jadwal tidur pun berubah semakin larut. Biasanya sekitar jam 20.00 - 20.30 mereka sudah masuk ke kamar dan bersiap tidur. Setelah sebelumnya rutinitas menggosok gigi, mengganti baju, menyiapkan tempat tidur sendiri serta kiss & hug diselingi diskusi ringan sebelum tidur dilakukan.

Di bulan Ramadhan ini mereka harus menahan kantuk karena Maghrib baru tiba menjelang jam 20.30. Artinya mereka baru bisa masuk kamar dan bersiap tidur setelah lewat jam 21.00, itu pun kadang Athifa sudah mulai ketiduran di meja makan. Hihi...

Akhirnya saya bangunkan Athifa yang masih meringkuk di bawah selimut. Saya bujuk dia dengan baju baru yang saya belikan pekan lalu. Baju yang bertuliskan sesuatu tentang ayah. Dan si anak ayah ini suka sekali dengan tulisan itu. Benar-benar menggambarkan perasaannya pada sang ayah 😄

Bujukan saya berhasil. Athifa bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Iya, gak pakai mandi 😆 Kebiasaan di sini mandi hanya di sore hari, itu pun gak setiap hari kalau cuacanya masih dingin seperti ini.

Dengan bangganya dia keluar kamar sambil menunjukkan baju barunya.

"Ghaidan, Ghaifan, look at my shirt!" serunya pada kedua abangnya sambil tersenyum bangga.

Abang kembar hanya tertawa geli membaca tulisan di baju Athifa. Sambil menyiapkan bekal yang sudah saya taruh di meja makan, kedua abangnya ini lalu megingatkan Athifa untuk bersiap-siap karena kami sudah hampir terlambat.

Athifa sepertinya baru sadar kalau hari sudah mulai siang. Dia sedih karena tidak kebagian jatah membantu bunda menyiapkan bekal dan sarapan. Semuanya sudah siap. Bunda dan abang yang mengerjakan. Tapi akhirnya dia bisa menerimanya, dan kami pun berangkat sekolah dengan sedikit buru-buru karena sudah hampir terlambat.

Baru saja sampai di gerbang sekolah, Athifa sudah meminta peluk cium dan segera berlari menyusul kedua abangnya. Saya memang hampir tidak pernah lagi mengantarnya sampai Garderobe. Hanya sampai gerbang sekolah. Kepercayaan yang diberikan pada anak-anak untuk bisa mengurus diri sendiri memang jadi motivasi buat mereka untuk lebih mandiri. Alhamdulillah tidak ada keluhan lagi dari si kembar tentang Athifa yang lambat mengganti sepatu dan membuka jaketnya. Semua lancar.

Pulang sekolah saya jemput mereka di tempat after school care. Athifa masih asyik membuat prakarya. Saya ingatkan kalau hari ini adalah jadwal mereka nonton.

"It's movie day, remember?" Saya berusaha mengingatkan Athifa yang masih sibuk dengan kreasinya.

"Owh, you're right! But i want to finish this one first. Just a little bit more, please," pintanya pada saya.

"Ok. Jangan lama-lama, ya. Nanti kesorean. Kan mau baca iqra."

Tidak lama akhirnya Athifa mau diajak pulang. Saat di Garderobe, saya sempat memintanya berpose sebentar karena tidak sempat memfotonya di pagi hari 😁

Ini dia baju kebanggaannya 😎

Sampai di rumah, si kembar baru ingat kalau tugasnya belum selesai dikerjakan. Biasanya mereka menyelesaikan tugasnya di sekolah saat Hausaufgabenstunde (jam mengerjakan PR) di Nachmittagsbetreuung (after school care). Tapi karena memang tugasnya cukup banyak jadi belum selesai.

Saya minta mereka menyelesaikan tugasnya dulu sebelum nonton. Dan semua sepakat. 

Selesai mengerjakan tugas, mereka malah bermain. Saya kebetulan sedang di kamar untuk menyelesaikan tilawah saya. Sampai akhirnya saya dengar suara-suara bising. Ternyata mereka sedang main pedang-pedangan.

"Jadi gak nontonnya? Kalau kesorean, nanti gak sempat baca iqra, lho."

Dan mereka pun segera membereskan mainannya, menyalakan tv, dan mengambil posisi di sofa. Setelah semua duduk manis dan rapi, barulah saya mainkan videonya.

Sedikit cerita tentang aturan tv di Austria. Ada aturan khusus jika ingin memasang antena di komplek apartement. Pertama harus mendapatkan ijin tertulis dulu dari pemilik apartement dan kedua ada iuran khusus sebesar 20-25 euro perbulan. Meskipun siaran yang kita terima berupa siaran bebas, bukan siaran tv kabel atau siaran berbayar lho. Mirip dengan iuran TVRI jaman dulu di Indonesia, yang tiap bulannya ada petugas keliling yang nagih iuran tv. Berasa deja vu 😅

Kami juga tidak berlangganan tv kabel karena selain harganya mahal, rata-rata acaranya juga berbahasa jerman. Jadinya kami tidak membiasakan untuk menonton acara tv setiap hari. Solusinya kami nonton dengan cara streaming melalui internet dan juga berlangganan NETFLIX. Dengan begitu, kami bisa memilihkan dan memantau tontonan anak-anak yang sesuai dengan usianya.

Selesai nonton, mereka melanjutkan permainannya. Saya sudah berkali-kali mengingatkan mereka untuk segera berwudlu dan shalat Ashar. Setelah itu adalah jadwal mengaji sambil menunggu Maghrib tiba.

Karena mereka masih asyik bermain, akhirnya jadi semakin lama bergerak ke kamar mandi untuk berwudlu. Bahkan saat berwudlu pun lama sekali karena sambil bercanda. Begitu terus sampai mereka siap memakai sarung dan mukena. Bahkan Athifa hampir lupa memakai mukena karena keasyikan bercanda dan bicara terlalu banyak.

"Udah... udah... Shalat dulu! Ini udah mau Maghrib sebentar lagi," kata saya mengingatkan lagi.

Mereka akhirnya segera mengambil posisi shalat. Hari ini giliran Ghaifan yang menjadi imam.

Shalat Ashar berjama'ah

Selesai shalat dan berdo'a, mereka diskusi siapa yang mendapat giliran membaca Iqra pertama. Semua ingin duluan membaca, tapi akhirnya Athifa mengalah. Dia kebagian baca terakhir.

Maghrib tinggal 10 menit lagi dan Athifa baru mulai membaca Iqra. Di bulan Ramadhan ini mereka ingin membaca Iqra lebih banyak setiap hari. Tapi karena waktu berbuka sudah dekat, saya meminta Athifa untuk menunda bacaannya dulu.

"Athifa, ini udah mau Maghrib. Kita harus siap-siap buka puasa. Bacanya besok lagi, ya," bujuk saya.

"No...!! I want to finish it now!" Athifa mulai rewel dan nangis.

"Iya, tapi ini udah mau Maghrib. Kita harus buka puasa. Gak boleh melewatkan waktu buka puasa. Kata Allah kita puasanya sampai Maghrib," jelas saya.

Athifa masih menangis. Dengan berat hati dia menuju meja makan. Wajahnya masih sedih dan air matanya masih menetes. Buka puasa hari ini jadi mengharukan 😅

"Athifa maunya gimana?" Saya berusaha membujuknya lagi.

"I want to continue Iqra after drink. Just drink and then Iqra!" katanya.

"Ok, boleh."

Akhirnya Athifa mau membatalkan puasanya dulu dengan minum seteguk orange juice dan melanjutkan membaca iqra.

Saat makan, saya mencoba evalusai bersama anak-anak. Pelajaran yang diambil dari kejadian hari ini. Bahwa terlambat itu ternyata sambung-menyambung. Jika kita terlambat di salah satu jadwal, maka akan berpengaruh pada jadwal berikutnya. Begitu terus. Jadi semuanya terlambat. Maka sebisa mungkin kita harus bisa mengikuti jadwal yang sudah disepakati.

Sudah 3 stempel 😍

Tabel Kemandirian Anak, game level 2 kelas bunsay, melatih kemandirian



#hari13   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Wednesday, May 8, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 12 - Belajar Puasa

3:36 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak

Puasa anak di Austria
"Bunda, look, i make a heart!"


Seperti pekan lalu, hari Selasa adalah jadwal kursus berenang Athifa. Dia sudah lebih berani dan mandiri meskipun tanpa kedua abangnya. Sejak pagi dia sangat bersemangat pergi ke sekolah karena tahu bahwa hari ini hari spesial buatnya.

Siang hari saat saya jemput ke sekolah, anak-anak masih belum mulai puasa. Kebetulan hari Selasa memang mereka tidak ikut after school care. Saya sengaja mengosongkan jadwal mereka di hari Selasa untuk bisa mengikuti kursus berenang.

Karena mereka pulang sekolah siang hari, artinya mereka makan siang di rumah. Di hari lain jika mereka ikut after school care, maka mereka makan siang di sekolah.

Sampai di rumah, anak-anak segera makan siang agar bisa mulai puasa setelahnya. Tidak lupa mereka menyimpan perlengkapan sekolah, mengganti baju, serta mencuci tangan dan kaki dulu. Semuanya sudah biasa mereka lakukan sendiri tanpa harus saya paksa-paksa lagi. Paling saya ingatkan sesekali kalau mereka keasyikan ngobrol.

Tahun ini kami memang masih belum bisa benar-benar melatih anak-anak puasa penuh. Selain waktu puasa yang masih cukup panjang, kondisi lingkungan yang kurang mendukung di sekolah masih jadi tantangan cukup besar buat mereka. Berbeda dengan saya dan suami yang menghabiskan masa kecil di Indonesia, dimana lingkungan Islami sangat mendukung untuk kita bisa melaksanakan ibadah tanpa rasa minder atau dipandang aneh oleh sekitar.

Tapi saya sangat bersyukur karena semangat anak-anak untuk belajar puasa di tahun ini sangat meningkat. Sudah tiga hari ini mereka bisa mencapai target untuk menahan lapar dan haus hingga Maghrib tiba. Tidak hanya itu, mereka juga semangat untuk shalat berjama'ah, hafalan surat-surat pendek dan do'a harian, serta menamatkan buku Iqra-nya. Insya Allah terus semangat, ya.

Selesai makan siang, saya meminta Athifa bersiap-siap untuk kursus berenang. Dia mengambil dan memakai baju renang sendiri tanpa bantuan saya. Keluar dari kamar sudah rapi dengan bajunya. Saya sengaja memintanya memakai baju renang di rumah agar lebih praktis, tidak perlu ganti lagi di tempat berenang nanti. Tinggal lepas baju (luar) saja.

Di perjalanan menuju tempat kursus, tiba-tiba Athifa bertanya sesuatu.

"Bunda, what if i'm hungry after swimm course? You know, i always want to eat after swimm. It makes me sooo tired," tanya Athifa khawatir.

"Kalau Athifa gak kuat, gak apa-apa kalau mau buka puasa nanti. Kan masih belajar," jawab saya.

"But i still want to puasa. I want to get so many points." Athifa terlihat sedih.

"Ya udah kita lihat nanti ya, kalau Athifa kuat boleh banget diterusin puasanya. Tapi kalau gak kuat ya gak apa-apa nanti buka aja."

Setelah siap dengan baju renangnya, Athifa menunggu para coach datang di pintu ruang ganti. Saya hanya tersenyum melihatnya yang masih tampak kahawatir, memikirkan tentang puasanya.

anak puasa tetap beraktifitas
Menunggu coach datang

Setelah berenang, Athifa langsung ke ruang ganti. Saya menyambutnya dengan handuk terbuka 😄 Selesai ganti baju, kami ke luar dari ruang ganti dan mengeringkan rambut Athifa di bawah hair dryer yang sudah disediakan di sana.

"Bunda... I'm hungry," katanya pelan.

"Mau buka puasa?" tanya saya.

"Mhh... Maybe, yes," jawabnya masih dengan suara pelan.

Akhirnya kami pergi ke minimarket terdekat dari halte sebelum pulang karena saya tidak membawa makanan. Di perjalanan, saya mencoba menghiburnya lagi. Saya jelaskan bahwa dia sudah sangat hebat mau belajar puasa. Hari ini belajar puasanya tidak selesai karena memang ada uzur. Tapi insya Allah tetap dapat pahala dari Allah.

Athifa kembali ceria. Dia semangat lagi mau melanjutkan belajar puasa seterusnya.

"Can i still get the stamp, Bunda?", tanya dia sambil nyengir 😁

"Hmm... ok!"

"Yeayy!!" Athifa lompat-lompat kegirangan.

Membuat anak bahagia ketika puasa
Happy 😀

Ok. Karena hari ini bisa dibilang uzur, bukan atas keinginannya membatalkan puasanya, jadi dia masih boleh dapat stempel. Semoga dengan begitu, semangatnya bisa terus meningkat. Aamiin...

Penyemangat anak ketika berpuasa
Tetep dapet stempel 😄

Di rumah, sesuai kesepakatan kami saat di perjalanan pulang, Athifa tidak boleh makan atau minum di depan abang. Dia harus bisa menghargai kedua abangnya yang masih melanjutkan puasanya. Dan Athifa pun setuju.

Karena sudah batal puasanya, Athifa jadi lebih segar. Hehehe... Dia menghampiri saya yang sedang sibuk masak di dapur. Dan dia pun menawarkan diri untuk membantu. Kebetulan saya sedang memasak menu favoritnya, sayur lodeh tempa.

"Wow, yummyyy!!" seru Athifa sambil mengaduk-aduk sayur lodeh di panci.

Sayangnya moment ini pun tidak sempat saya foto, karena tangan saya kotor, sibuk memasak, dan HP entah ada di mana 😅

Melatih kemandirian anak game level 2


#hari12   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Tuesday, May 7, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 11 - Masih Semangat walau Cuaca tak Bersahabat

6:01 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak

Hari pertama Ramadhan kemarin diawali dengan semangat dan antusias dari anak-anak. Walaupun masih belajar puasa, tapi semangatnya sudah luar biasa. Awal yang sangat baik. Mudah-mudahan makin bertambah setiap harinya. 

Pagi-pagi mereka masih sarapan. Athifa langsung inisiatif menyiapkan sarapannya sendiri. Seperti biasa, cereal dan susu. Bahkan dia juga menyiapkan untuk abang-abangnya. Tapi saya minta dia untuk membiarkan abangnya menuang susu sendiri ke dalam mangkuk. Biar abang juga belajar untuk tidak terbiasa dilayani.

Saat berangkat sekolah, mereka mengulang lagi rule tentang puasa ini. Athifa dengan tegas bilang bahwa nanti waktunya makan siang di sekolah dia akan makan dan minum yang banyak. Setelah itu stop makan dan minum hingga Maghrib tiba, yaitu sekitar jam 20.21 nanti.

Cuaca kemarin sangat tak bersahabat. Pekan lalu cuaca sangat cerah, bahkan kami sempat trekking karena suhu saat itu pun sudah sangat hangat. Tapi tiba-tiba suhu kembali turun. Disertai angin yang sangat kencang dan langit tertutup oleh awan. Rasanya seperti kembali ke winter. Dingin...

Saya jadi teringat masa-masa winter yang dingin itu. Meski cuaca tak bersahabat, harus pakai baju berlapis-lapis serta jaket tebal, anak-anak tetap semangat pergi ke sekolah.
Melatih anak berpuasa di musim dingin
Suami yang kebetulan sedang di perjalanan menuju Vienna naik kereta sempat mengirim foto via Whatsapp pada saya. Di foto itu terlihat salju tipis lumayan menumpuk di salah satu stasiun yang dilewati. What?! Salju di bulan Mei??

Salju turun ketika hari pertama puasa
Pemandangan di stasiun 

description

Mürzzuschlag dari dalam kereta

Saat saya jemput anak-anak sore hari, saya lihat Ghaidan mulai terlihat lemas. Dia mengeluh sesekali. Haus katanya. Tapi lalu saya ingatkan tentang belajar puasa. Dan saya bilang kalau memang mau batal puasanya, ya silakan. Tapi dia tidak mau membatalkan puasanya.

Lain halnya dengan Athifa. Dia terlihat masih sangat berenergi dan aktif. Bahkan saat kami sudah sampai di Garderobe dan ternyata Ghaidan baru ingat bahwa buku-bukunya yang dia pinjam dari Bücherbus (bus buku) tertinggal di atas, Athifa mau mengambilkannya. Sementara Ghaidan hanya duduk menunggu di tangga 😒

Bücherbus ini adalah salah satu program dari Stadtbibliothek (perpustakaan kota) Graz untuk semakin meningkatkan minat baca siswa. Bus ini berkeliling ke tiap sekolah sesuai jadwal yang sudah dibuat oleh pihak perpustakaan. Siswa yang kedatangan bus buku ini boleh meminjam buku apa saja yang mereka suka dan dikembalikan pada saat jadwal bus buku datang berikutnya, atau dikembalikan ke perpustakaan (milik pemerintah) mana saja yang ada di kota Graz. 

Siswa yang ingin meminjam buku harus membuat kartu perpustakaan terlebih dahulu. Biaya pembuatan kartu ini gratis untuk anak usia sekolah dan berlaku hingga mereka lulus sekolah. Kartu ini bisa digunakan di seluruh perpustakaan kota Graz.

Anak tetap bersemangat ketika berpuasa
Athifa masih semangat, dengan sigap memakai jaket sendiri

Sebetulnya Athifa pun sempat mengeluh lapar pada saya. Tapi semangatnya mengalahkan rasa laparnya. Dia masih semangat meneruskan puasanya.

"Bunda, i'm hungry," keluh Athifa pada saya di perjalanan pulang.

"Tapi kan lagi puasa, ya?" Saya bertanya balik padanya.

"Yes, i know. I'm hungry because the weather is really cold. You know, Bunda? Cold always makes me hungry," jelasnya dengan gaya khasnya yang lucu.

"Iya, ya? Trus gimana, dong? Athifa mau terus puasa atau mau makan sekarang aja?" tanya saya lagi.

"No... no... I still want to puasa! I ate two portions at lunch today so i still have enough energies."

Saya pun tertawa geli mendengar celotehan Athifa.

Kebetulan kemarin adalah Movie Day. Jadi ada pengalih perhatian buat mereka. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, mereka punya jadwal nonton 3 kali sepekan. Jadwal ini kami sepakati bersama. Mereka sendiri yang memilih harinya, yaitu Senin, Rabu, dan Jum'at. Walau pada pelaksanaannya kadang harinya bisa bergeser tergantung situasi dan kondisi. Tapi yang jelas "jatah" nonton mereka tetap 3 kali sepekan.

Alhamdulillah mereka berhasil menamatkan puasanya hingga Maghrib tiba. Saya memanggil Athifa agar membantu saya menyiapkan hidangan berbuka di meja makan. Dia pun dengan semangat membantu.

Saya sudah menyiapkan hidangan khusus favorit mereka sebagai takjil, yaitu puding cokelat dan pancake. Mereka melahapnya dengan nikmat. Semakin terasa nikmat karena sudah berpuasa. Ini adalah salah satu kenikmatan orang berpuasa, yaitu saat berbuka puasa 😊

"Thank you for the pudding and pancake, Bunda!" seru anak-anak.

"You're welcome. Besok mau puasa lagi?" tanya saya.

"Mauuu...!" jawab mereka serempak.


Lembar stempel ramadhan penyemangat puasa
Lembar stempel Ramadhan ditempel di dinding ruang baca/main


Satu stempel setiap hari selama ramadhan
Lembar stempel Ramadhan milik Athifa, Alhamdulillah sudah terisi 1 kolom 😍


Hari pertama Ramadhan tahun ini mereka mendapatkan stempel dari saya. Good job, kids!

melatih kemandirian anak game level 2


#hari11   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional

Monday, May 6, 2019

Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian Anak - Hari 10 - Sambut Ramadhan dengan Ceria

1:56 PM 0 Comments
Melatih Kemandirian Anak

Menyambut ramadhan di Austria
Ceria menyambut Ramadhan ❤

Sejak beberapa pekan lalu, anak-anak sudah di-sounding tentang Ramadhan. Alhamdulillah mereka semua sangat antusias menyambut Ramadhan kali ini. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan guru agama Islam di sekolah tentang pahala yang berlipat ganda di bulan ini. Tambah semangatlah mereka.

Ada guru agama Islam di sekolah anak-anak? Itu sekolah Islam (swasta) atau sekolah pemerintah? Koq, ada pelajaran agama Islam?

Ya, agama Islam merupakan salah satu agama yang diakui di Austria. Anak-anak kami bersekolah di sekolah pemerintah. Saat kita mendaftar sekolah, kita diberi formulir untuk kita mengisi data anak kita termasuk agama disertai pernyataan apakah kita mengizinkan anak kita mendapatkan pelajaran agama yang sesuai atau tidak.

Jadi murid tidak wajib mengikuti pelajaran agama. Tetapi sekolah tetap memfasilitasi bagi yang ingin mengikutinya. Bagi murid yang tidak mengikuti pelajaran agama, saat teman-temannya masuk kelas di jam pelajaran tersebut, mereka akan dibawa ke ruangan lain untuk mengikuti kegiatan berbeda dari guru kelasnya.

Selama kami menyekolahkan anak-anak kami di sini, Alhamdulillah tidak pernah ada masalah mengenai perbedaan keyakinan ini. Bahkan saat Idul Fitri pun anak-anak diizinkan untuk meliburkan diri. Namun untuk berpuasa (penuh) masih menjadi tantangan bagi kami.

Salah seorang teman kami sempat mendapat surat dari kepala sekolah yang isinya menegur (secara halus) karena anaknya yang duduk di kelas 3 Volksschule (setingkat sekolah dasar) tidak makan dan minum selama di sekolah. Beliau khawatir akan kondisi fisik anak tersebut. Padahal anaknya sendiri yang ingin berpuasa dan memang sudah biasa berpuasa penuh saat tinggal di Indonesia.

Kebetulan anak-anak kami masih belajar berpuasa karena waktu puasa yang masih panjang. Jadi di hari-hari mereka sekolah, mereka berpuasa setelah makan siang di sekolah, dan berbuka di waktu Maghrib tiba sekitar jam 20.30. Ramadhan kali ini pun mereka masih akan berpuasa seperti itu di hari-hari mereka sekolah. Namun mereka ingin mencoba berpuasa penuh di akhir pekan. Insya Allah...

Semangat menyambut Ramadhan sudah diawali oleh anak-anak dengan memasang dekorasi yang di dinding kamarnya. Selain itu, mereka juga meminta ayahnya mencetak lembar untuk kami beri stempel setiap harinya jika mereka berhasil (belajar) berpuasa.

Membuat penyemangat puasa untuk anak
Lembar stempel Ramadhan

Hari Minggu pagi yang seharusnya tidak boleh berisik (salah satu aturan di Austria bahwa hari Minggu adalah hari tenang), jadi cukup gaduh dengan kehebohan anak-anak. Selain karena diskusi tentang Ramadhan, mereka juga masih melanjutkan permainan malam sebelumnya. Saya sendiri sampai lupa, malam itu memang Athifa meminta izin untuk membiarkan play ground mereka tidak dibereskan karena masih ingin melanjutkan permainan.

Karena terlalu berisik, saya minta mereka Pause sebentar untuk sarapan. Mereka setuju dengan permintaan saya. Memang hari sudah cukup siang juga. Saya meminta Athifa menyiapkan sarapannya sendiri. Dan dengan senang hati dia mau melakukannya. Dia ambil kursi plastik miliknya untuk bisa meraih cereal yang saya letakkan agak tinggi di dapur. Dia juga mengambil sendiri susu dari kulkas dan menuangkannya ke mangkuk. Good job, girl!

Melatih kemandirian anak selama ramadhan
Menyiapkan sarapan sendiri

Masih dalam rangka menyambut Ramadhan dengan ceria, saya dan suami sudah menyiapkan acara spesial untuk anak-anak.

"Kita mau bikin sate ayam, siapa yang mau?" seru ayah.

"Akuuu...!" jawab anak-anak semangat.

"Boleh, tapi semua harus bantu ayah tusuk-tusukin dagingnya, ya?" kata saya.

Semua setuju. Masing-masing mengambil posisi melingkari wadah berisi daging ayam yang sudah saya potong-potong dan diberi bumbu. Karena tangan saya juga kotor, saya jadi tidak sempat memfotonya 😅

Setelah semua daging ayam siap dipanggang, giliran saya yang menyelesaikan. Anak-anak saya minta untuk mandi dan mengganti baju karena khawatir kotor terkena daging mentah tadi. Tentu saja Athifa mandi sendiri, meskipun masih minta ayahnya menemani di pintu kamar mandi.

Persiapan menjelang ramadhan bersama anak
Bunda's job: manggang sate ayam 😄

Makan malam kami memasuki Ramadhan tahun ini benar-benar spesial. Selain karena ada menu spesial yang dimasak bersama, diskusi kami tentang Ramadhan berlanjut saat makan malam. Anak-anak terlihat semakin antusias menyambut hari esok.

Persiapan menjelang ramadhan bersama anak
Sate ayam, anyone? 😋

"So, tomorrow we're not allowed to eat and drink after lunch, right?" tanya Ghaidan.

"Iya, kalau mau belajar puasa begitu," jawab saya.

"I also want to practice puasa, Bunda," kata Athifa tak kalah semangat.

"Boleh banget, besok semua coba dulu belajar puasa, ya."

"I'm already excited to try puasa full day on Saturday!" seru Ghaifan. 

melatih kemadirian anak game level 2



#hari10   #gamelevel2   #tantangan10hari   #melatihkemandirian #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional