Tuesday, July 2, 2019

Aliran Rasa - Family Project: Meningkatkan Kecerdasan Anak

11:56 PM 0 Comments

15 hari lainnya dari tantangan Kelas Bunda Sayang sudah berhasil dijalankan. Di game level 3 ini kami diminta untuk membuat Family Project dengan tema "Meningkatkan Kecerdasan Anak".

Dari beberapa poin yang direncanakan sebagai fokus saya dalam meningkatkan kecerdasan Athifa (partner saya dalam game level 3 ini), hampir semuanya terpenuhi. Tapi pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang di luar rencana semula. Bahkan seperti di level sebelumnya, walaupun partner saya dalam melakukan tantangan ini adalah Athifa, namun kedua abangnya jadi ikut terlibat juga. Dan bonusnya buat saya adalah si kembar pun ikut mendapat dampak positif dari project ini.

Yang saya rasakan setelah melewati 3 level pertama dalam perkuliahan Bunda Sayang ini adalah semakin terarahnya aktivitas saya bersama keluarga. Sebelum mengikuti kelas Bunda Sayang, hampir semua kegiatan yang kami lakukan dalam memenuhi tantangan 10 hari ini memang sudah biasa kami lakukan sehari-hari. Namun dengan adanya tantangan ini, kegiatan kami menjadi semakin terarah lagi dan kami mempunyai target yang lebih jelas dalam melakukannya.

Mulai dari melatih komunikasi produktif dengan seluruh anggota keluarga yang membuat saya semakin banyak belajar lagi bagaimana menyampaikan isi kepala dan isi hati dengan baik pada suami dan anak-anak. Juga sebaliknya, bagaimana mendengar dan menyikapi dengan baik setiap bahasa yang disampaikan mereka pada saya.

Pelajaran yang saya dapatkan dari level 1 menjadi modal besar dalam mengerjakan tantangan di level berikutnya. Begitu pun seterusnya hingga 15 hari tantangan di level 3 ini selesai dilakukan. Semakin banyak pelajaran yang didapat, semakin excited juga untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya.

Bismillah... Semoga istiqamah hingga level terakhir 😉




#aliranrasa     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Sunday, June 30, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 15 - Belajar Bertanggung Jawab

6:21 PM 2 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Kemarin warga muslim asal Indonesia di Graz kembali mengadakan pengajian bulanan. Kebetulan tempat pengajian kali ini di rumah salah satu teman kami yang rumahnya berdekatan dengan rumah kami. Karena itu agar para orang tua bisa lebih konsentrasi menyimak kajian, anak-anak diikutkan ke acara TPA yang di adakan di rumah kami.

Pagi-pagi sebelum teman-temannya datang, anak-anak sempat bermain dulu. Mereka sedang asyik bermain peran sebagai pemilik cafe. Semua sibuk menyiapkan perlengkapan untuk bermain. Ada yang mendirikan tenda dibantu ayah, ada yang menyiapkan makanan (mainan), dan ada yang menyiapkan uang-uangan. Setelah itu mereka asyik bermain. Sesekali saya yang sedang sibuk memasak pun ditawari untuk memesan menu yang ada di cafe mereka 😄

Cafe imut milik Chef Athifa 😍 

Tidak terasa waktu hampir menunjukkan jam 10 pagi. Artinya kami harus bersiap-siap untuk menyambut para tamu cilik. Saya dan suami juga bersiap untuk datang ke rumah teman untuk mengikuti kajian. Saya meminta anak-anak membereskan semua mainannya yang berserakan di mana-mana.

"Ayo dibereskan dulu mainannya. Nanti kan mau ada teman-teman ke sini, mau TPA." Saya mengingatkan anak-anak.

"But i also want to play this with the others," keluh Athifa.

"Boleh, tapi TPA dulu. Nanti kalau udah selesai TPA dan masih ada waktu, boleh ajak yang lain main juga. Sekarang dibereskan dulu mainannya biar rumahnya rapi, kan mau ada tamu."

Mereka pun bergotong-royong membereskan semua mainannya dan merapikan rumah untuk menyambut tamu. Saya cerita sedikit tentang bagaimana menjadi tuan rumah yang baik.

Karena jarak dari rumah ke tempat pengajian sangat dekat, saya pun jadi bisa bolak-balik. Kali ini memang bukan giliran saya yang menjadi penanggung jawab TPA. Jadi saya hanya membantu menyiapkan tempat, mengkondisikan anak-anak di awal, dan menyediakan sedikit cemilan untuk mereka. Setelah itu saya tinggalkan anak-anak bersama guru TPA hari itu di rumah.

Sebagai tuan rumah, ternyata anak-anak cukup bertanggung jawab dalam menjaga rumah yang diamanahkan oleh ayah bundanya selama TPA berlangsung. Saat anak-anak yang lebih kecil mulai bermain yang cukup membahayakan, baik bagi dirinya maupun barang yang dimainkan, anak-anak mengingatkan mereka. Selain itu juga memberi contoh yang baik bagi yang lain. Begitu kurang lebih info yang saya dengar dari teman dan juga suami yang sempat sesekali mengintip ke rumah.

Shalat Dzuhur berjama'ah setelah acara TPA selesai.


Sore hari anak-anak cerita bahwa tadi ada anak yang membawa permen karet dan membagi-bagikannya pada yang lain. Mereka sudah mengingatkan untuk membuang permen karet ke tempat sampah yang ada di dapur, tapi ternyata beberapa anak malah membuangnya ke tempat sampah khusu plastik yang ada di ruang tengah. Bahkan saya menemukan beberapa permen karet di lantai.

Saya memang tidak pernah membelikan permen karet untuk anak-anak dan sangat jarang juga membelikan permen untuk mereka. Kalaupun mereka mendapatkan permen dari orang lain, mereka sudah mengerti bahwa tidak baik memakan permen terlalu banyak. Karena itu mereka biasanya hanya mau mencoba 1 saja, setelah itu tidak meminta lagi.



#hari15     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Saturday, June 29, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 14 - Shadaqah tidak Membuat Kita Rugi

6:50 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Hari Jum'at kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Ada 2 hal yang membuat mereka, terutama si kembar, sangat antusias menanti hari ini, yaitu kegiatan Benefizlauf (charity run) di stadion dekat sekolah dan juga menamatkan Iqra jilid 6! Yeayyy!!

Benefizlauf ini merupakan kegiatan olah raga sekaligus donasi yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang bekerjasama dengan beberapa sekolah. Teknisnya adalah para murid berlari selama waktu yang diberikan, yaitu sekitar 30 menit, dan di akhir penyelenggara akan menghitung berapa putaran yang berhasil para murid selesaikan. Biasanya penyelenggara menyediakan sebuah gelang karet yang sudah dipasang chip untuk memudahkan menghitung jumlah putaran.

Sebelumnya kami para orang tua sudah diberikan form yang harus diisi dengan jumlah sumbangan yang ingin diberikan. Besarnya boleh antara 10 sen sampai 1 euro. Jumlah ini yang akan dikalikan dengan total jumlah putaran lari yang berhasil dicapai. Tapi bagi yang ingin menyumbang lebih pun tentu sangat diterima. Kita bisa meminta form  khusus jika ingin menyumbang lebih.

Hasil dari donasi ini akan disalurkan ke lembaga-lembaga sosial, seperti palang merah, rumah belajar untuk anak (yang biasanya diutamakan untuk anak-anak kurang mampu), dan lain sebagainya.

Siang hari saya menjemput anak-anak di sekolah. Mereka sudah menunggu di play ground sekolah karena hari itu tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Setelah berlari di stadion, anak-anak kembali ke sekolah dan piknik di taman dekat sekolah.


"Bunda! I got 8 rounds!" seru Athifa bangga.

"Wow! Cool!" Saya menunjukkan antusiasme yang tinggi.

"I got 11!" seru Ghaifan tak kalah bangga.

"Wow! Hebat!" Saya menyambut dengan semangat. "Kalo Ghaidan?"

"I also got 8," jawab Ghaidan santai.

"Oh, sama dengan Athifa?" tanya saya heran.

"Yes. Because if i got so many rounds then we have to pay so much, right?"

Oow... Rupanya ada yang salah paham di sini. Ghaidan menyangka kami harus mengeluarkan uang yang banyak jika dia mendapat banyak putaran. Dan dia mengira jika kami harus membayar banyak, itu akan membebani kami. Well, thanks for thinking about us, but that's not the point 😊

Athifa dan Ghaidan sedang berdiskusi tentang kegiatan Benefizlauf tadi.
Akhirnya saya jelaskan lagi tentang tujuan dari kegiatan lari tadi, dan apa itu donasi atau sumbangan. Itu sama dengan shadaqah, yang berarti kita membantu orang yang membutuhkan. Jika kita melakukannya tentu kita akan mendapat pahala. Makin banyak kita memberi tentu makin banyak orang yang terbantu, dan pahalanya pun insya Allah makin banyak. Kita tidak akan merugi dengan banyak bershadaqah. Ghaidan pun bisa memahami penjelasan saya.

Sebagai hadiah buat anak-anak yang sudah berlari tadi, saya membelikan minuman dingin saat di perjalanan pulang ke rumah. Cuaca sedang panas jadi rasanya memang ingin minum yang dingin dan segar terus. Tapi seperti biasa, saya belinya cuma 1, hehehe... Selain hemat, anak-anak juga jadi terbiasa berbagi 😉



Sampai di rumah, mereka langsung mandi. Badannya sudah lengket penuh keringat setelah berlari tadi. Habis mandi, badan jadi segar dan mood biasanya kembali membaik. Kita jadi lebih bersemangat melakukan kegiatan lain, termasuk mengaji 😊




#hari14     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Friday, June 28, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 13 - Semangat dalam Mencapai Target

6:35 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak

Gaya (suka-suka) Athifa membaca buku Iqra saat TPA 😄

Hari Kamis seperti biasanya anak-anak mengikuti Nachmittagsbtreuung (after school care) hingga sore hari. Saya menjemput mereka sekitar jam 5 sore. Cuaca yang sangat panas beberapa hari ini membuat anak-anak lebih memilih bermain di dalam gedung sekolah ketimbang di play ground. Terlalu panas.

Tidak lama saya menunggu anak-anak menyelesaikan sesuatu yang sedang mereka kerjakan sebelum akhirnya mereka beranjak untuk pulang. Hanya sedikit percakapan dengan Athifa saat melihat ke luar jendela sambil menunggu kedua abangnya bersiap-siap.

Cuaca panas yang bikin malas. Badan dan kepala lengket oleh keringat 😅

"Bunda, it's so hot. Can we swimming bath today?" kata Athifa. Maksudnya dia ingin mandi berendam (sambil bermain tentunya).

"Boleh. Yuk, makanya cepet pulang," ajak saya.

Saat kami membuka pintu sekolah, rupanya mulai turun gerimis. Kami pun bergegas menuju halte bus. Dan tidak lama kami menunggu, bus pun datang. Segera kami naik ke dalam bus agar tidak terkena gerimis.

Sampai di pemberhentian terakhir bus, gerimis pun berganti hujan. Bukan hanya air, melainkan es. Kami pun segera berlari menuju sebuah toko asia di dekat halte tram. Kebetulan memang ada yang perlu saya beli di sana. Dan hujan es pun hanya turun sebentar saja. Selesai saya berbelanja, selesai pula hujannya. Alhamdulillah kami jadi bisa pulang tanpa kehujanan.

Sesuai permintaannya, Athifa, disusul Ghaifan, saya izinkan berendam. Ya...intinya sih mereka main air karena kalau berendam begitu bukannya membersihkan badan malah mungkin malah jadi mengotorinya karena mereka mengajak teman-teman mainannya ikut berendam 😄

Oh ya, saya masih membolehkan Athifa dan kedua abangnya bermain air di bak mandi bersama, tapi mereka tetap mengenakan celananya. Baru saat mereka sudah puas bermain, mereka akan mandi (betulan) bergiliran 😊

Selesai mandi, badan memang jadi lebih fresh. Jadi semangat lagi melakukan kegiatan lain. Dan mereka pun meminta untuk melanjutkan membaca buku Iqra. Hari sebelumnya sepulang dari wisata ke kebun binatang, mereka tidak membacanya karena sudah sangat kelelahan.

Target si kembar beberapa hari lalu adalah membaca buku Iqra sehari 4 halaman agar hari Jum'at mereka bisa menamatkannya. Tapi karena hari Rabu lalu sempat skip, akhirnya hari Kamis kemarin mereka menambah bacaannya menjadi 6 halaman. Dan sisanya akan ditamatkan di hari Jum'at. Mereka ingin saat TPA hari Sabtu besok sudah mulai membaca Al Quran.

Athifa pun tidak mau ketinggalan. Dia pun ingin menambah bacaannya hari itu. Karena saya masih harus menyimak bacaan Ghaifan, jadi saya belum bisa menyimak bacaan Athifa. Ghaidan sudah selesai disimak bacaannya oleh ayahnya. Setelah itu ayahnya memintanya untuk menyimak bacaan Athifa (sambil tetap diawasi oleh ayahnya).

Ternyata Ghaidan bisa juga jadi guru yang baik. Dia dengan sabar membimbing adiknya membaca, membetulkan jika ada yang salah, dan mencontohkan bacaan jika adiknya belum faham 😍

Ghaidan sedang membimbing Athifa membaca buku Iqra 😍



#hari13     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Thursday, June 27, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 12 - Bijak Membelanjakan Uang

6:46 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Pekan ini merupakan pekan kedua terakhir sebelum libur musim panas sekaligus kenaikan kelas sekolah-sekolah di kota Graz. Kebanyakan sekolah mengadakan wisata bagi para siswa. Untuk siswa kelas 1 dan 2 biasanya wisata ke tempat yang tidak terlalu jauh dari kota Graz, sedangkan untuk siswa kelas 3 dan 4 bisa sampai ke luar kota.

Kemarin kelas Athifa dan si kembar berwisata ke Tierpark Herberstein, yaitu salah satu kebun binatang yang terletak sekitar 30 menit dari kota Graz. Mereka pergi menggunakan bus wisata yang disediakan oleh sekolah.

Pagi hari sebelum berangkat, tiba-tiba Athifa menghampiri saya sambil mengacungkan tas kecil miliknya. Tas itu berisi koin-koin yang selama ini dia kumpulkan. Awalnya sih koin-koin itu dia pakai untuk main-main saja saat bermain peran di rumah. Sudah lama tas itu tergantung di kamar, tidak pernah dia mainkan lagi.

"Athifa mau pakai tas itu?" tanya saya.

"Can i?" Athifa balik bertanya.

"Boleh. Tapi itu ada uangnya, ya? Mau dibawa juga?" tanya saya lagi.

"Yes. Because Ghaidan and Ghaifan said, last year when they went to Ausflug (excursion), everyone bought ice cream."

"Emangnya ada berapa itu uangnya?"

"I'm going to count." Lalu Athifa pun mulai menghitung koin-koin itu dibantu oleh kedua abangnya.

Tidak banyak total nilai dari koin-koin di tas Athifa itu karena memang kebanyakan merupakan pecahan 10 - 20 sen, beberapa pecahan 1, 2, dan 5 sen, dan sedikit pecahan 50 sen. Itu memang uang kembalian saat saya berbelanja.

Saya menemukan beberapa koin pecahan 20 dan 50 sen di atas meja. Saya berikan pada anak-anak yang sedang asyik menghitung. Mereka pun bersorak. Belum sempat saya tanyakan berapa pastinya jumlah koin-koin itu. Kami harus segera berangkat.

Sampai di sekolah, ternyata kami masih harus menunggu bus yang terlambat datang. Anak-anak lain menunggu sambil bermain di play ground halaman sekolah. Saya ngobrol sebentar dengan Betreuerin lalu tersedar bahwa anak-anak saya tidak ada di antara kerumunan anak lainnya.

Saya cari-cari mereka. Ternyata mereka berada di halaman belakang tempat bermain bola. Saya dekati mereka. Oh, rupanya mereka sedang mengamati kawanan semut.



"Hati-hati! Jangan diinjak semutnya!" seru saya mengingatkan mereka.

"I know, Bunda. So that's why i move really slowly so i won't step on them," jawab Athifa.

"Oh, the bus is coming! Let's go!" Ghaifan mengingatkan.



Mereka pun berbaris rapi sebelum naik ke dalam bus. Saya panggil Ghaidan sebentar. Setelah saya renungkan, sekarang mereka sudah waktunya belajar mengelola uang sendiri. Selain itu, saya pun khawatir mereka sedih karena tidak bisa membeli es krim seperti teman-temannya. Dan seingat saya, uang yang ada di tas Athifa tidak cukup untuk membeli es krim untuk 3 orang.



"Ghaidan, last year, teman-teman Ghaidan semua beli es krim?" tanya saya.

"Yes, only Ghaifan and me didn't buy any, because we didn't bring money," jawabnya sedikit sedih. Tahun lalu saya memang tidak membekali mereka uang.

"Ok, ini bunda kasih uang, tapi cuma boleh dipakai kalau betul-betul perlu aja ya." Saya pun memasukkan uang 10 euro ke dalam dompet kecil dan memasukkannya ke dalam tas Ghaidan, disaksikan oleh Ghaidan dan Ghaifan juga Athifa.

Saya ingatkan lagi bahwa mereka harus berpikir dulu apakah benar-benar perlu untuk membelanjakan uangnya atau tidak. Jangan membeli yang tidak perlu, seperti mainan dan sejenisnya. Mereka pun setuju.


***

Sore harinya saya sudah menunggu di depan gerbang sekolah untuk menjemput anak-anak. Saya tidak sabar ingin mendengar keseruan mereka, terutama Athifa, menceritakan pengalaman wisata ke kebun binatang bersama teman-temannya. Dan saya juga tentunya penasaran akan cerita uang bekal mereka itu 😄


Setelah turun dari bus, semua anak berkumpul di halaman sekolah. Sebagian sudah ditunggu orang tuanya. Sebagian lainnya masih belum dijemput sehingga mereka bisa bermain dulu di play ground. Athifa berlari menuju bangku taman. Dia langsung membuka tas kecilnya dan mengeluarkan semua koin yang ada di dalamnya. Rupanya dia pun penasaran ada berapa uang yang tersisa (yang sebetulnya justru bertambah karena sisa dari 10 euro yang saya berikan dimasukkan ke situ, hahaha) di tasnya itu.






"Wahh ... uangnya kok jadi banyak? itu kok jadi ada koin dua euro juga?" tanya saya menyelidik.

"Because Ghaidan gave me some coins from the ice cream store," jawab Athifa.



"Ohh ... jadi tadi uang kembaliannya dimasukkan ke situ?" Saya masih menyelidiki.

"Yes, Bunda. I gave them to Athifa," jawab Ghaidan yang ternyata juga ikut memperhatikan Athifa yang serius menghitung uangnya.

"Jadi ada berapa tadi kembaliannya?" tanya saya lagi.

"Owh, sorry, i didn't count," jawab Ghaidan dengan nada khawatir.

"Harga es krimnya berapaan tadi?"

"I didn't know...." Ghaidan tampak merasa bersalah.

"Ya udah gak apa-apa. Lain kali coba lihat harganya sebelum beli sesuatu, ya. Jadi kita tahu uangnya cukup atau nggak. Terus kita juga harus cek uang kembaliannya betul atau nggak."

Belajar pelan-pelan, insya Allah nanti bisa lebih mahir mengelola keuangan 😊






#hari12     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Wednesday, June 26, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 11 - Adil tidak Selalu Berarti Sama

6:45 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Hari Selasa, masih jadwal kursus berenang Athifa. Karena sepekan ini kebetulan suami sedang off bekerja, jadi kesempatan untuk bisa mengantar Athifa kursus bersama-sama.

Jeda waktu dari pulang sekolah sampai mulai berenang memang cukup mepet, hanya 2 jam. Kadang kami harus terburu-buru pulang ke rumah, makan siang, dan bersiap-siap berangkat lagi menuju tempat berenang. Cukup melelahkan.

Kemarin suami mengusulkan untuk makan siang di luar saja. Sudah lama juga kami tidak makan di luar. Dan lumayan bisa menghemat energi, tidak harus bolak-balik dari sekolah menuju rumah lalu berangkat lagi dengan arah yang berlawanan. Bolak-balik jadinya.

Anak-anak memilih makan fish burger sedangkan saya dan suami memilih makan kebab. Setelah kami membeli fish burger terlebih dahulu, kami menuju tampat kebab untuk makan bersama di sana. Setelah itu barulah kami menuju tempat berenang.

Cuaca sangat panas saat itu. Kami membeli sebotol minuman dingin dan habis dalam sekejap diminum oleh 5 orang. Hahaha... Alhamdulillah di kota ini banyak tersedia keran air minum sehingga kita bisa mengisi ulang air minum yang dingin nan segar secara cuma-cuma. Tulisan lengkapnya bisa dibaca sini.

Athifa tiba-tiba bertanya apakah boleh beli es krim setelah berenang nanti. Saya pun mengiyakan. Kebetulan memang kami harus mampir ke supermarket sebelum pulang nanti untuk membeli beberapa bekal makanan untuk wisata anak-anak esok hari.

"Bunda, abang already ate ice cream yesterday, do today only me can have ice cream, ok?" ucap Athifa tiba-tiba.

"Kenapa begitu? Kan kasian abang juga mau. Sekarang kan panas banget, abang juga pasti mau yang seger-seger," kata saya.

"But then abang eat ice crem two times and i only one times. It's not fair!" Athifa sedikit kesal. Dia menyilangkan tangannya.

"Athifa... Kemarin abang dapet ice cream dari Uschi (guru kelas si kembar) karena Uschi baru masuk lagi ke sekolah setelah suaminya meninggal." Saya mencoba memberinya pengertian.

"Athifa... When you were still in Kindergarten, sometimes you went to somewhere with bunda and got ice cream without us because we were in school. Remember? So, you also get more than us sometimes." Ghaidan yang ternyata mencuri dengar ikut menimpali.

"Yes, Ghaidan's right! And beside, today is really hot! So we also need to eat ice cream," kata Ghaifan ikut menimpali. Hehe... Bisa aja ni anak 😁

"Owkay then... You also can get ice cream today." Akhirnya Athifa mencoba menerimanya.

Alhamdulillah kami sampai di tempat kursus lebih awal, tidak mepet-mepet seperti biasanya 😅 Saya sudah menyiapkan perlengkapan berenang. Biasanya Athifa memakai baju renangnya di rumah jadi begitu sampai di tempat kursus tinggal buka baju saja. Tapi karena kami tidak pulang dulu, jadi dia harus memakai baju renangnya di tempat ganti.

Karena masih punya banyak waktu, bunda pun jadi sempat foto-foto dulu 😄

Sesuai kesepakatan, setelah Athifa selesai berenang, kami pergi ke supermarket dan membeli beberapa makanan untuk bekal. Tentu saja anak-anak tidak lupa dengan es krimnya. Mereka langsung ke freezer tempat es krim dan memilih yang mereka suka.

Pada akhirnya semua bahagia. Tidak ada lagi yang protes karena yang lain sudah lebih dulu makan es krim hari sebelumnya. Kebersamaan jauh lebih membahagiakan daripada kepuasan menuntut kesamaan. Lagi pula, adil itu tidak selalu berarti sama, bukan? 😉


Foto saat di kebun binatang. Tidak ada hubungannya dengan cerita, hanya menggambarkan kebersamaan anak-anak (dengan para penguin) 😆


#hari11     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Tuesday, June 25, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 10 - Berlomba-lomba dalam Kebaikan

5:58 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak

Foto lama yang mengingatkan saya saat pertama kali Athifa mulai belajar membaca buku Iqra, saat itu usianya sekitar 2 tahun. Sempat naik turun semangatnya, tapi Alhamdulillah sekarang semakin semangat.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
 (QS. Al-Baqarah, 2: 148)

Walaupun Ramadhan sudah berlalu dan target anak-anak dalam menyelesaikan buku Iqra tidak tercapai, namun semangat mereka dalam belajar membaca Al Quran tidak pudar. Alhamdulillah...

Kemarin setelah shalat Ashar berjama'ah, anak-anak membaca Iqra. Seperti biasa mereka berunding dulu, siapa yang mendapat giliran membaca pertama. Semua ingin menjadi yang pertama, karena itulah setiap mau mulai membaca harus ada musyawarah agar semua bisa sama-sama menerima 😊


Foto lama juga, saat selesai shalat dan menunggu giliran membaca Iqra.
Kalau ada ayahnya, maka yang pertama membaca jadi 2 orang. Dan mereka dibagi 2, ada yang sama bunda dan ada yang sama ayah. Sisanya menunggu siapa yang selesai duluan. Tapi kalau salah satu dari ayah dan bunda sedang tidak ada, maka mereka menentukan urutan 1-3.

Kemarin yang mendapat giliran membaca pertama adalah Ghaidan (sama ayah) dan Athifa (sama bunda). Biasanya Ghaifan akan menunggu giliran sambil latihan membaca sendiri dulu.

Selesai Ghaidan membaca, dia lalu menghitung sisa halaman di buku Iqra jilid 6 miliknya.

"Ayah! Bunda! It's only sixteen pages left!" seru Ghaidan kegirangan.

"Really?! So after that we can read Quran and get more points (pahala) from Allah?" Ghaifan tak kalah girang.

Sontak Athifa yang sedang khusyuk membaca jadi terganggu konsentrasinya. Dia pun menoleh dan memandangi kedua abangnya yang tampak sangat excited. Ya, si kembar tinggal beberapa hari lagi akan menyelesaikan buku Iqranya. Insya Allah...

Biasanya mereka membaca sekali dalam sehari, masing-masing 4 halaman atau 2 lembar. Jadi, tinggal 4 hari lagi mereka selesai membaca 6 jilid buku Iqra dan lanjut ke Al Quran.

Athifa lalu kembali ke bukunya dan melanjutkan membaca. Dia yang tadinya sudah sedikit mengantuk kembali semangat karena termotivasi oleh kedua abangnya. Selesai membaca, dia langsung menghitung sisa halaman di buku Iqra jilid 5 miliknya.

Setelah menghitung sisa halaman di buku Iqranya, Athifa menggambar bintang di setiap halaman yang sudah dibaca.

"... ten ... eleven ... twelve! Bunda, it's twelve pages left! Yuhuuu..." sorak Athifa tak kalah girang dari kedua abangnya.

Saya dan suami tersenyum melihat anak-anak yang heboh. Terutama si kembar. Mereka sangat antusias dan tidak sabar untuk segera membaca Al Quran. Maasya Allah... Semoga kalian menjadi orang-orang yang selalu dekat dengan Al Quran. Aamiin...

Selesai membereskan perlengkapan shalat dan mengaji, saya pun menyiapkan makan malam. Lalu tiba-tiba Ghaifan mendekat dan berbisik pada saya.

"Bunda, can you make the rice mountain when we finish Iqra?" bisik Ghaifan.

"Rice mountain??" tanya saya bingung.

"Remember that you showed us a picture about that one time? You said in Indonesia when the kids finish reading Quran, parents make something like a mountain from rice ... it's yellow rice i guess ... and there were so many foods beside the mountain. Can we get that too?" Ghaifan memelas sambil nyengir.

"Ohh... Nasi tumpeng maksudnya... Itu kan kalau khatam Al Quran ...," jawab saya sambil berpikir sejenak, "... tapi boleh kalau Ghaifan mau. Nanti Jum'at kan selesai Iqra, ya? Bunda bikinnya Jum'at atau Minggu, ya... Hari Sabtu ada pengajian dulu di rumah tante. Is that ok?"

"Yes, ok!" Ghaifan pun bersorak. Dia mengumumkan pada seisi rumah bahwa saya akan membuat "the rice mountain" jika dia dan Ghaidan telah menyelesaikan buku Iqra.

Athifa tampak iri sekaligus termotivasi. Tapi di ikut bahagia melihat kedua abangnya begitu semangat dan kegirangan.

"Bunda, tomorrow i want to read Iqra five or six pages! I also want to finish it so i can read Quran too," kata Athifa.

"Boleh, sayang...," jawab saya sambil tersenyum.



#hari10     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Monday, June 24, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 9 - Menentukan Kensekuensi Sendiri

6:37 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Foto di atas memang bukan foto yang saya ambil kemarin, tapi cukup nyambung dengan cerita yang akan saya tulis ini 😃

So, hari Minggu sesekali anak-anak kami mendapat jatah main video game menggunakan wii. Main video game ini mungkin hanya 1-2 kali saja dalam sebulan. Biasanya kami lebih memilih aktivitas lain, terutama jika cuaca sangat bagus, kami lebih memilih ke luar rumah.

Kemarin hujan turun sejak pagi hari. Akhirnya anak-anak meminta izin untuk bermain video game. Ayahnya ingat terakhir mereka main game bulan lalu, ada salah satu dari mereka yang marah dan kesal karena kalah. Dan itu melanggar kesepakatan bersama bahwa tidak akan marah kalau mereka kalah. Jadi, sebelum akhirnya mereka diizinkan bermain, ayahnya meminta mereka menulis apa saja konsekuensi yang akan mereka dapatkan jika ada yang melanggar kesepakatan lagi.



Selama sekitar 30 menit anak-anak berembug menentukan apa saja konsekuensi yang akan mereka dapatkan jika melanggar kesepakatan lagi. Lalu mereka menuliskannya di sebuah kertas. Setelah itu mereka mempresentasikannya di depan saya dan suami.


Ada 5 poin yang mereka tuliskan, yaitu:
1. Sleep for 2 hours: ini maksudnya tidur siang, karena si kembar paling susah disuruh tidur siang.
2. Stand on the wall for 30 minutes: maksudnya semacam time out, mereka berdiri di depan tembok dan tidak melakukan dan berbicara apa pun.
3. Skip movie for 1 week: ini yang paling saya setuju 😄
4. Write for 20 minutes: maksudnya mereka akan menulis "i will not be angry anymore" selama 20 menit!
5. Eat healthy food for 1 week: hmm... makan sehat kok jadi konsekuensi?!

Setelah mereka presentasi, sebetulnya saya sedikit kurang setuju, terutama poin nomor 5. Makan sehat itu kan sebuah kebutuhan, kenapa jadi konsekuensi?! Saya minta mereka menjelaskan. Ternyata yang dimaksud adalah mereka (si kembar) mau makan buah-buahan dan salad selama 1 minggu, termasuk untuk bekal ke sekolah. Mereka memang susah sekali makan buah dan sayur. Tapi buat Athifa ini malah jadi hadiah, karena justru itu makanan favoritnya 😄

Kalau lihat dari list konsekuensi yang dibuat anak-anak, beberapa poin memang si kembar yang memutuskan. Masalah tidur siang dan makan makanan sehat itu memang bagi si kembar jadi sebuah tantangan karena mereka tidak suka. Karena itu, meski saya masih sedikit kurang setuju, akhirnya saya mengiyakan juga. Ya...bukan berarti berharap ada yang marah biar mereka makan makanan sehat terus juga sih. Hehehe...

Nah, jadi foto yang di atas tadi bukanlah sekedar pencitraan. Tapi memang Athifa suka makan buah dan sayur 😎

Lalu, bagaimana hasilnya??
Alhamdulillah tidak ada yang melanggar kesepakatan, jadi tidak ada yang tidur siang 😄

Bagaimana dengan makanan sehat??
Tentu saja bunda tetap menyiapkan makanan sehat. Sayur tetap disajikan dengan masakan yang disukai oleh mereka 😉


#hari9     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional 

Sunday, June 23, 2019

Tantangan 10 Hari Family Project - Hari 8 - Fokus pada Solusi bukan Emosi

5:15 PM 0 Comments
Meningkatkan Kecerdasan Anak


Tidak terasa libur musim panas sekaligus akhir tahun ajaran sekolah tinggal 2 pekan lagi. Para orang tua mulai merencanakan kegiatan keluarga masing-masing. Ada yang berlibur ke luar kota bahkan ke luar negeri. Beberapa teman anak-anak yang berasal dari luar Austria pun sudah merencanakan mudik ke kampung halaman mereka.

Namun beberapa orang tua yang mungkin belum bisa mengambil cuti panjang, harus mencari aktivitas lain untuk mengisi liburan anak-anak mereka. Sebegian dari mereka memasukkan anak-anaknya ke Child Care yang dibuka setiap musim liburan sekolah. Biayanya lumayan mahal, dihitung per hari anak-anak masuk.

Alhamdulillah tinggal di kota yang menurut saya sangat family friendly ini, kami tidak bingung mencari aktivitas anak saat liburan. Pemerintah selalu menyediakan berbagai macam kursus olah raga, kunjungan ke berbagai museum, atau event yang khusus digelar saat liburan sekolah. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan berbagai organisasi juga tempat-tempat kursus olah raga di kota ini. Biayanya? Sangat murah dan bahkan beberapa ada yang GRATIS!

Tentu saja kuotanya terbatas. Jadi saat mulai dibuka pendaftaran beberapa bulan sebelum mulai liburan sekolah, kami harus stand by di depan laptop sepagi mungkin. Siapa cepat dia dapat! 😃

Kali ini kami hanya mendaftarkan 1 kursus saja untuk si kembar, yaitu kursus in line skate yang akan dilaksanakan selama 5 hari pada tanggal 8 - 12 Juli 2019 nanti. Biayanya hanya 10 euro saja! Tapi ada sedikit kendala buat kami. Si kembar belum punya perlengkapannya. Sedangkan pihak tempat kursus tidak menyediakan. Berarti harus keluar uang lebih juga sih jadinya. Hahaha...

Akhirnya sejak beberapa hari lalu kami mulai hunting barang-barang second hand melalui website penjualan barang bekas juga mulai tanggap setiap kali melihat promo-promo di toko online maupun off line. Untuk perlengkapan sport seperti peralatan ski, ice skating, dan in line skate ini memang kami memilih membeli barang bekas saja. Selain karena harga baru dari barang-barang tersebut cukup mahal, biasanya barang-barang tersebut tidak terpakai lama karena anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Juga karena peralatatan sport tersebut hanya digunakan di musim tertentu saja.

Setelah beberapa hari ini kami melakukan pencarian, kemarin akhirnya kami pergi ke Flohmarkt atau pasar barang bekas. Pasar kaget yang bertempat di parkiran dekat stasiun Graz Puntigam ini hampir selalu ada setiap hari Sabtu dan Minggu. Di sini kita bisa menemukan berbagai jenis barang mulai dari pernak-pernik antik hingga mesin cuci atau televisi. Tentu saja kondisi barang yang di jual pun beraneka ragam, sesuai dengan harganya.

Di stasiun tempat Flohmarkt digelar
Kami pun berkeliling untuk mencari barang yang kami butuhkan. Dan akhirnya kami menemukan sepasang sepatu in line skate dengan ukuran yang sesuai dengan si kembar. Setelah dicoba dan diteliti dengan seksama kondisi barang tersebut, kami pun melakukan transaksi. Alhamdulillah dapet barang murah dengan kondisi masih cukup bagus. 5 euro saja!

Sayangnya kami tidak menemukan lagi barang yang cocok. Baru sepasang yang berhasil kami dapat, masih kurang 2 pasang lagi untuk Ghaidan dan Athifa. Ya, walaupun yang akan ikut kursus nanti hanya Ghaifan dan Ghaidan, tetap saja Athifa pun tidak mau ketinggalan.

Ghaidan dan terutama Athifa terlihat kecewa. Apalagi karena mereka melihat Ghaifan yang sejak mencoba sepatu barunya itu terus meluncur dengan lincahnya. Saya menawarkan Athifa untuk mencoba sepatu Ghaifan dan dia pun setuju. Tapi ya tentu saja ukurannya terlalu besar. Dia pun kembali kecewa. Suami berusaha memberi pengertian bahwa kita boleh sedih dan kecewa, tapi kemudian kita harus berusaha mencari solusinya. Dan beliau pun menawarkan untuk kembali ke tempat ini pekan depan. Semoga nanti ada barang yang cocok.


Setelah dari Flohmarkt, kami munuju ke IKEA. Memang tujuan kami selain ke Flohmarkt kemarin adalah ke IKEA karena ada acara anak di sana. Di perjalanan, Athifa terlihat masih sedih sambil memandangi sepatu baru abangnya. Tapi tidak lama kemudian dia pun mulai bisa menerima dan kembali ceria. Dia menyerahkan sepatu abangnya pada ayahnya dan kemudian berlari menyusul kedua abangnya.


Setelah sampai di IKEA kami memutuskan untuk makan siang dulu karena anak-anak sudah lapar, dan memang itu sudah waktunya makan siang. Sudah tidak ada lagi yang sedih dan kecewa karena tidak dapat sepatu. Apalagi setelah mengikuti acara anak. Semua sudah kembali ceria 😊



#hari8     #gamelevel3     #tantangan10hari     #familyproject #myfamilymyteam     #kuliahbundasayang     #institutibuprofesional