Komunikasi Produktif dengan Anak
Hari ini masih fokus pada Ghaidan. Pasalnya sejak bangun tidur, anak ini bertingkah, cari perhatian. Mulai dari males-malesan turun dari kasur (padahal udah bangun), sampai nyari-nyari jaket rompi gak ketemu yang bikin dia sendiri dan yang lain kesel, dan akhirnya jadi tambah telat berangkat.
"Bunda, i can't find my jacket. Where is it?"
"Loh, kemarin pulang sekolah disimpan dimana? Kan biasanya digantung."
"I don't know... It's not there."
Lalu kami menyimpulkan bahwa jaketnya tertinggal di sekolah.
"Bunda tau Ghaidan kesel, tapi kita harus berangkat sekolah sekarang. ini udah siang. Ya udah, sekarang Ghaidan pakai sweater aja ya. Di luar gak terlalu dingin juga, kok. Nanti kita cari di sekolah, ya." Saya berusaha memberinya pengertian (walaupun dalam hati berusaha nahan diri buat gak ngomel dan bilang, "Hellooooow... what time do you think it is now?!")
Dan saat sore hari saya jemput, Ghaidan bilang bahwa jaketnya tidak ada di sekolah. Makin bingung lah saya. Saya berusaha mengingat-ingat, rasanya kemarin pulang sekolah dia pakai jaketnya sampai rumah. Lalu saat kami pergi ke perpustakaan, dia hanya pakai sweater tanpa jaket rompinya.
"Berarti mungkin ada di rumah. Ya udah yuk, kita pulang, nanti di rumah kita cari lagi jaketnya," ajak saya.
Sesampainya kami di rumah, Ghaidan bergegas ke kamarnya. Penasaran dia, apa benar jaketnya ada di rumah.
"Bunda! I found it! It was in my shirt place (di lemari maksudnya). Who moved my jacket there? I hanged it before." (mulai deh menggerutu)
"Alhamdulillah... Udah ketemu, ya? Mungkin ada yang gak sengaja simpan jaket Ghaidan di situ. Mungkin kemarin jatuh jaketnya, terus dikira baju yang jatuh. Maksudnya mau tolong Ghaidan simpenin ke dalam lemari. Gitu...," jelas saya berusaha menenangkannya. "Next time, digantung yang betul ya, biar ga jatuh lagi."
Setelah itu Ghaidan berhenti menggerutu. Selain karena saya berusaha menenangkan dan mengajaknya untuk tidak fokus pada masalah, sebaliknya sokus pada solusi (berusaha lebih baik ke depannya), juga karena dia ingat bahwa hari ini adalah movie time. Anak-anak kami memang punya jadwal nonton tiga kali seminggu. Jadwalnya mereka yang pilih, yaitu hari Senin, Rabu, dan Jum'at. Dan kami punya kesepakatan. Bahwa jika ada yang berlaku tidak baik (termasuk berantem dan marah-marah) di jadwal nonton, maka hari itu mereka harus merelakan kehilangan jatah nontonnya.
Sampai selesai nonton, semua aman terkendali. Mereka tidak meminta lebih dari 2 episode, seperti yang disepakati dengan ayahnya. Walaupun saat waktu nonton habis, tetap masih terdengar sesaat suara, "Aaaahhh.... Why...??" 😅
Selesai nonton, Ghaidan meminta bantuan saya untuk membuatkan kalung dari benang dan memasangkan liontin dari kerang di benang tersebut. Katanya itu untuk hadiah ultah gurunya. So sweet banget, sih, nih anak. Tapi kenapa minta tolong bundanya??
Tapi akhirnya saya bantu juga. Dan malah justru saya yang membuatnya dari awal sampai akhir, karena susah juga kalau dikerjakan berdua. Memasukkan benangnya butuh konsentrasi tinggi. Nah, di saat itulah tiba-tiba mulai terdengar sedikit keributan.
Jadi saat saya asik dengan prakarya (yang harusnya dikerjakan Ghaidan), anak-anak asik membaca di sofa. Ghaidan tiba-tiba cekikikan karena (katanya) buku yang dia baca ceritanya lucu. Yang lain jadi penasaran, kan. Athifa mulai ngintip-ngintip, deh. Tapi awalnya Ghaidan males diintip-intip begitu. Akhirnya keributan pun dimulai.
"Ghaidan... boleh gak bacanya barengan? Kalau kalian ribut, bunda jadi gak bisa konsentrasi, nih," protes saya.
"But Athifa is disturbing me."
"Gak apa-apa, Athifa cuma mau baca bareng-bareng."
"Aahhh... Why don't you read your own book, Athifa?!"
Dan lalu Athifa pundung.
(tarik napas... hembuskan perlahan)
"Ghaidan... Ghaidan mau bunda bantu Ghaidan bikin ini, kan? Bunda juga mau Ghaidan bantu bunda biar bunda bisa konsentrasi. Baca bareng-bareng ya... Kan seru kalau barengan, ketawanya juga bisa barengan... Ghaidan pilih, mau baca barengan biar bunda bisa selesaikan ini, atau mau baca sendiri tapi bunda ga bisa bantu lagi? Karena athifa jadi sedih, bunda mau temenin Athifa."
"Ouh.. okay then. Come here, Athifa. Let's read together."
![]() |
| Kata mereka, sih, ceritanya lucu banget sampai mereka tertawa terbahak-bahak begitu. |
![]() |
| Ini, nih, yang bikin saya harus konsentrasi. Terlihat simple, kan? Tapi percayalah, saya susah payah masukin benang ke lubang kancingnya itu. Hahaha... |
![]() |
| Selesai bundanya bikin kalung, mereka masih asik baca. Awalnya baca buku maisng-masing (lagi), tapi Ghaidan masih aja cekikikan. Yang lain jadi penasaran juga ingin ikut baca. |
Mereka asik baca buku sampai menjelang waktu tidur. Alhamdulillah semuanya kooperatif saat saya minta berhenti baca. Waktunya bersiap untuk tidur. Seperti biasa kami punya ritual, yaitu kiss & hug sebelum tidur. Setelah ritual dengan Ghaidan, saya ingatkan dia lagi sambil mengusap kepalanya.
"Besok bangunnya lebih awal, ya. Biar kita gak kesiangan berangkat sekolahnya. Ghaidan mau kita lari-lari ngejar bus atau kita jalan normal aja?"
"Hehe... I don't want to run."
"Kalau gitu sekarang bobo, besok kita berangkat lebih awal biar gak usah lari-lari. Capek, kan, kalau lari-lari?"
"Ok..."
So, tantangan komunikasi produktif hari ini Alhamdulillah berjalan lancar. Nambah beberapa poin di tabel KomProd. Yipppiiiiieeee!
#hari7 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbundasayang #institutibuprofesional





No comments:
Post a Comment